5 Hal Yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Membeli Properti

Sumber dari Bp. Rudini, salah satu praktis properti syariah.
Dalam banyak diskusi dengan calon konsumen, Saya selalu menjelaskan dengan terang mengenai pertimbangan yang harus diperhatikan sebelum membeli suatu properti. Ini penting Saya lakukan agar calon konsumen tidak terjerembab dalam kerugian.


Lalu apa saja yang perlu dipertimbangkan?


1. Status Kepemilikan
Salah satu rukun jual beli dalam Islam yaitu Objek Jual Beli. Dimana syarat objeknya harus merupakan milik pihak penjual, suci, dapat dimanfaatkan, bisa diserahterimakan, dikuasai. Sehingga sangat penting mempertimbangkan Status Kepemilikan dari suatu objek properti yang hendak dibeli.
Disamping secara hukum Islam jual beli atas objek yang kepemilikannya bukan oleh penjual disebut tidak sah, secara hukum perdata jual beli seperti itu dinyatakan batal dan secara hukum pidana merupakan tindakan pemalsuan bilamana penjual melakukan pemalsuan alas hak pada saat menjual.
Secara detil akan Saya urai dilain waktu mengenai rincian apa saja yang harus diperhatikan dalam memastikan status kepemilikan benar-benar aman.

2. Legalitas Perijinan
Puncak perijinan dalam properti itu Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Ini dasar yang bisa dijadikan pertimbangan dalam membeli properti, terlebih bila sudah dalam bentuk bangunan, baik itu rumah, ruko, apartement, dll.
Namun perlu dipahami, tidak adanya IMB bukan berarti petaka, terkadang IMB on going progress, sehingga kebijakan dari dinas terkait masih mentolerir kegiatan pembangunan dilapangan, apalagi untuk pembangunan areal perumahan yang terbilang sangat luas.
Petaka sesunggunya terjadi ketika bangunan tersebut didirikan di atas bidang tanah yang secara peruntukan TIDAK DIPERBOLEHKAN untuk mendirikan bangunan. Bisa saja areal tersebut masuk dalam zona penghijauan, milik negara, atau akan dibebaskan oleh negara sebagai fasilitas umum.
Maka sebaiknya dilakukan cross check mengenai kesesuaian tata ruang atas bidang tanah tersebut. Bila memang peruntukannya untuk pemukiman alias memungkinkan IMB diterbitkan, berarti legalitas perijinan aman.

3. Perjanjian
Ini khusus untuk konsumen yang membeli properti secara kredit. Akan terdapat poin-poin perjanjian jual beli kredit yang mengikat kedua pihak. Karena tulisan Saya membahas tentang pertimbangan dari sisi pembeli, maka bagi Anda yang hendak membeli properti, sebaiknya memperhatikan dengan seksama poin demi poin perjanjian jual beli kreditnya.
Sebagai acuan, perjanjian yang baik itu adalah harus bersifat JELAS dan TUNTAS.
JELAS diantaranya mengenai objek jual belinya, berbentuk tanah/bangunan, luasan/spesifikasi, status kepemilikan, harga, termin bayarnya, dll. Sedangkan TUNTAS artinya jika ada kendala yang timbul akibat dari wanprestasi/kewajiban dari kedua belah pihak, maka secara perjanjian yang kita buat telah termaktub jalan keluarnya hingga benar-benar dinyatakan selesai.

4. Keuntungan Investasi
Rumus dasar dan sederhana yang bisa dijadikan pijakan untuk mempertimbangkan sisi keuntungan investasi yang bisa didapatkan ketika memutuskan untuk membeli suatu properti adalah menghitung RoI atau Return on Investment.
Rumusnya seperti berikut:
RoI = total pendapatan / total investasi
Sebagai contoh kasus, di perumahan kami di tahap pertama, seorang konsumen memutuskan untuk membeli unit rumah type 36 dengan harga cash 150jt. Jika dalam 2 tahun pemilik rumah menyewakannya dengan harga 10jt dibayar di depan. Bila 2 tahun, pemilik memutuskan untuk menjual nya kembali, harga jual untuk type 36 di perumahan kami tersebut sudah mengalami KENAIKAN HARGA dari 150jt MENJADI 240jt.
Berarti, pemilik mendapatkan 2 pendapatan.
Pendapatan pertama berasal dari penyewaan yang berlangsung 2 tahun, dengan nilai sewa : Rp. 10.000.000,-
Pendapatan kedua berasal dari capital gain setelah 2 tahun, dengan nilai capital gain : Rp. 90.000.000,- (Harga Jual 240jt - harga beli 150jt).
Maka, RoI nya = Rp. 100.000.000 (didapatkan dari sewa dan capital gain) dibagi Rp. 150.000.000 (total investasi) = 67% dalam 2 tahun, atau 33,5% per tahunnya.

5. Bentuk Transaksi
Yang tak kalah pentingnya adalah Bentuk Transaksinya. Anda harus memperhatikan transaksi jual beli nya seperti apa. Bagi yang membeli tunai Saya kira tidak ada persoalan. Berbeda dengan yang membeli secara kredit. Karena harus memastikan transaksinya benar-benar bebas dari pada RIBA. Apatah lagi di jaman sekarang, jual beli tidak mengindahkan lagi prinsip halal/haramnya suatu transaksi, yang penting untung bagi pembeli walau kadang mendzalimi pembeli.
Tidak hanya RIBA, terdapat transaksi bawaan berupa asuransi, double akad, jaminan kredit, dll. Yang notabene sangat penting diperhatikan, apakah sudah syar'ie dan aman, serta tidak mendzalimi kedua belah pihak.

Demikianlah 5 hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk membeli suatu objek properti.

Silahkan Dibagikan Apabila Artikel Ini Bermanfaat

Related Posts

Previous
Next Post »